Bismillahirrohmanirrokhim…
Heemmzzz….. :-)
Udara pagi itu sangat sejuk, meskipun sang mentari sudah menunjukkan sinarnya..
Jalan raya yang sering kulewati pun masih belum begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan.
Hanya beberapa anak yang bersepeda menuju sekolahnya.
Di kanan dan kiri jalan itupun masih terbentang luas sawah-sawah milik Petani. Dan saat itupun terpikirkan, bahwa kita hidup di dunia ini ibarat seorang Petani.
Kenapa demikian? Coba perhatikan apapun yang dikerjakan oleh mereka, dari mengolah lahan sawah, memilih bibit yang unggul, sampai akhirnya dapat menikmati kerja kerasnya di masa panen telah tiba. Begitupun dengan kehidupan kita.
Saudaraku yang baik hatinya…
Allah telah mengaruniakan kita akal dan pikiran,pantaslah kita pergunakan sebaik-baiknya. Dari filosofis petani tersebut dapat kita petik hikmahnya. Mengolah lahan sawah ibarat kita mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya. Memilih bibit unggul bagaikan kita memilah-milah perbuatan, sikap dan tindakan kita. Masih ingat pelajaran-pelajaran di SMP?
Yang tentang Hukum III Eyang Newton… Hehe :-D.
Atau mungkin lebih familiar dengan sebutan Hukum Aksi sama dengan Reaksi! Nah itulah yang juga disiapkan oleh para petani. Mereka pastinya memilih dan menentukan mana bibit yang baik dan unggul, sehingga tanaman mereka menghasilkan panen yang baik dan melimpah.
Prinsipnya ketika kita menanam benih-benih kebaikan, pastinya suatu hari kan dapat menikmati buah-buah kebaikan, baik langsung kita rasakan di dunia, ataupun di akhirat nanti.
Namun seperti kehidupan kita ini, pastinya semua tak mudah dijalani. Banyak rintangan, dan halangan. Dan itupun dirasakan pula oleh Para Petani tersebut. Mereka harus menghadapi hama-hama tanaman,dan juga rumput-rumput liar yang dapat mengganggu kelangsungan kehidupan tanaman. Memupukkan dan menyemprotan dengan pestisida mutlak dilakukan oleh mereka. Atau dengan cara lain yang membuat pengganggu-pengganggu itu binasa.
Jikalau Para Petani menggunakan pupuk dan menyemprotkan pestisida untuk melawan serangan hama dan rumput liar. Apa yang harus menjadi senjata agar tunas-tunas kebaikan kita tidak mati? Keimanan dan ketakwaan kepada-Nya lah sumplemennya. Agar hama-hama kejahatan, kedzoliman, kesombongan, dan kemunafikan dapat kita basmi.
Dalam Kitab Kehidupan (Al-Qur’an), banyak dalil dan rujukan agar kita berusaha mengupayakan kebaikan. Seperti dalam Surat Al-Baqoroh ayat 110 :
Artinya :
"Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan."
Ya Akhi…Ya Ukhti…
Pada akhirnya kita dapat memanen jerih payah kebaikan-kebaikan yang telah diupayakan dengan sebaik-baiknya. Apakah itu di dunia ataupun di akhirat nanti!
Tetap semangat berbuat kebaikan saudaraku…
Apa yang kita tanam, pasti kan kita tuai..
Ya Allah….
Jadikan diri nie selalu berbuat kebaikan…
Keimanan dan Ketakwaan kepada-Mu lah senjata kami…
Agar tetap istiqomah selalu di jalan-Mu..
Amin…Ya Robbal Alamin…
^_^
Heemmzzz….. :-)
Udara pagi itu sangat sejuk, meskipun sang mentari sudah menunjukkan sinarnya..
Jalan raya yang sering kulewati pun masih belum begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan.
Hanya beberapa anak yang bersepeda menuju sekolahnya.
Di kanan dan kiri jalan itupun masih terbentang luas sawah-sawah milik Petani. Dan saat itupun terpikirkan, bahwa kita hidup di dunia ini ibarat seorang Petani.
Ilustrasi(Inet)
Kenapa demikian? Coba perhatikan apapun yang dikerjakan oleh mereka, dari mengolah lahan sawah, memilih bibit yang unggul, sampai akhirnya dapat menikmati kerja kerasnya di masa panen telah tiba. Begitupun dengan kehidupan kita.
Saudaraku yang baik hatinya…
Allah telah mengaruniakan kita akal dan pikiran,pantaslah kita pergunakan sebaik-baiknya. Dari filosofis petani tersebut dapat kita petik hikmahnya. Mengolah lahan sawah ibarat kita mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya. Memilih bibit unggul bagaikan kita memilah-milah perbuatan, sikap dan tindakan kita. Masih ingat pelajaran-pelajaran di SMP?
Yang tentang Hukum III Eyang Newton… Hehe :-D.
Atau mungkin lebih familiar dengan sebutan Hukum Aksi sama dengan Reaksi! Nah itulah yang juga disiapkan oleh para petani. Mereka pastinya memilih dan menentukan mana bibit yang baik dan unggul, sehingga tanaman mereka menghasilkan panen yang baik dan melimpah.
Prinsipnya ketika kita menanam benih-benih kebaikan, pastinya suatu hari kan dapat menikmati buah-buah kebaikan, baik langsung kita rasakan di dunia, ataupun di akhirat nanti.
Namun seperti kehidupan kita ini, pastinya semua tak mudah dijalani. Banyak rintangan, dan halangan. Dan itupun dirasakan pula oleh Para Petani tersebut. Mereka harus menghadapi hama-hama tanaman,dan juga rumput-rumput liar yang dapat mengganggu kelangsungan kehidupan tanaman. Memupukkan dan menyemprotan dengan pestisida mutlak dilakukan oleh mereka. Atau dengan cara lain yang membuat pengganggu-pengganggu itu binasa.
Jikalau Para Petani menggunakan pupuk dan menyemprotkan pestisida untuk melawan serangan hama dan rumput liar. Apa yang harus menjadi senjata agar tunas-tunas kebaikan kita tidak mati? Keimanan dan ketakwaan kepada-Nya lah sumplemennya. Agar hama-hama kejahatan, kedzoliman, kesombongan, dan kemunafikan dapat kita basmi.
Dalam Kitab Kehidupan (Al-Qur’an), banyak dalil dan rujukan agar kita berusaha mengupayakan kebaikan. Seperti dalam Surat Al-Baqoroh ayat 110 :
Artinya :
"Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan."
Ya Akhi…Ya Ukhti…
Pada akhirnya kita dapat memanen jerih payah kebaikan-kebaikan yang telah diupayakan dengan sebaik-baiknya. Apakah itu di dunia ataupun di akhirat nanti!
Tetap semangat berbuat kebaikan saudaraku…
Apa yang kita tanam, pasti kan kita tuai..
Ya Allah….
Jadikan diri nie selalu berbuat kebaikan…
Keimanan dan Ketakwaan kepada-Mu lah senjata kami…
Agar tetap istiqomah selalu di jalan-Mu..
Amin…Ya Robbal Alamin…
^_^






No comments:
Post a Comment